Jun
Kekeringan di Kabupaten Blora Semakin Meluas
KOMPAS.COM, Jumat, 13 Juni 2008 | 19:45 WIB-BLORA
Musim kemarau di Kabupaten Blora semakin terasa dan meluas. Di Desa Cabak, Kecamatan Jiken, sebanyak 10 hektar sawah puso, dan di Desa Gabusan, Kecamatan Jati, ratusan warga kembali kesulitan memperoleh air bersih.
Untung (67), petani Desa Cabak, Jumat (13/6), mengatakan 1,5 hektar sawahnya terancam puso. Separuh dari sawah itu sudah tidak dapat dipanen lagi lantaran kekurangan air.
“Seharusnya saya dapat panen tiga ton, tapi sekarang hanya empat kuintal saja. Sebagian besar bulir padi tidak berisi sehingga saya merugi sekitar Rp 4 juta,” kata dia.
Untung tidak membabat atau membakar habis padi puso itu. Ia justru memanfaatkan tanaman padi itu untuk makanan dua ekor sapinya. Setiap hari, ia mengambil tanaman padi sebanyak dua sak kapasitas 50 kilogram.
Jarlan (55), petani Desa Cabak, mengatakan kalau hujan tidak terjadi 2-3 hari ini sawahnya seluas 1,5 hektar bakal puso. Saat ini, bulir-bulir padi banyak yang kosong dan daun-daunnya mulai menguning.Ia memperkirakan hasil panenan turun dari 2,5 ton menjadi lima kuintal. Jika itu terjadi, kerugiannya mencapai sekitar Rp 3,5 juta.
Menurut Jarlan, luas sawah puso di Desa Cabak sekitar 10 hektar. Puluhan sumur gali yang berada di sekitar areal sawah tidak dapat lagi mengairi sawah secara maksimal karena airnya tinggal satu meter.Jika disedot dengan pompa air, pasti habis dalam waktu singkat, kata dia.
Sawah puso di Desa Cabak menambah luasan sawah terancam kekeringan di Kabupaten Blora. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Blora, sekitar 472 hektar sawah di tujuh kecamatan terancam kekeringan. Sebanyak 388 hektar tergolong rusak ringan, 57 hektar rusak sedang, adapun 27 hektar rusak berat.
Di Dusun Sucen dan Gabusan, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, ratusan warga yang lima hari lalu mendapat pasokan air bersih dari Pemkab Blora, kembali kekurangan air. Mereka terpaksa mengambil air dari Dusun Ngrejeng, Desa Palem, Keca matan Gabus, Kabupaten Grobogan, yang berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Sucen dengan bersepeda.
Sukardi (36), warga Dusun Sucen, mengatakan membutuhkan air delapan jeriken per hari. Air itu dipergunakan untuk masak dan minum anggota keluarga dan minum lima ekor sapi.
Air pemberian Pemkab Blora hanya cukup untuk sehari saja. Sejak 20 hari lalu, kami mengirit penggunaan air, misalnya saja dengan mandi sekali sehari, kata Sukardi yang harus pergi-pulang mengambil air sebanyak empat kali. (HEN)










