KOMPAS/LUCKY PRANSISKA   SENIN, 23 FEBRUARI 2009 | 20:43 WIB

BLORA, SENIN - Pada 2009, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Blora menargetkan produksi gabah kering giling atau GKG mencapai 392.698 ton. Hal itu mengingat realisasi GKG pada 2008 melebihi target, dari 383 .080 ton menj adi 415.492 ton.   

Kepala Subdinas Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Blora Reni Miharti, Senin (23 /2) di Blora, optimistis target itu tercapai meskipun sejumlah padi di sejumlah daerah terserang penyakit. Pasalnya, Dinas Pertanian dan Perkebunan telah mengobati sebagian besar padi itu sehingga tidak gagal panen.  

Kami belum mengetahui total hasil produksi padi pada musim panen pertama karena banyak petani yang belum panen. Semoga saja, padi yang terserang penyakit itu tidak menurunkan produktivitas padi pada musim panen pertama itu, kata Reni.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Blora Si nggih Hartono mengatakan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Blora tetap perlu menghitung penurunan produktivitas padi akibat penyakit. Dengan begitu, perhitungan itu dapat dijadikan data pemacu produktivitas pertanian di tahun-tahun berikutnya.  

Penurunan produktivitas itu diperk irakan terjadi di sawah-sawah yang terserang penyakit Xanthomonas dan Blas, seperti di Kecamatan Banjarejo, Ngawen, dan Kunduran, kata dia.

Secara terpisah, Koordinator Riset Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana (LPAW) Blora Yunus Bachtiar mengemukakan peningkatan produksi padi harus diimbangi dengan anggaran ang memihak sektor pertanian. Selama ini, APBD Kabupaten Blora belum memihak sektor pertanian.

Hal itu terlihat dari persentase anggaran Dinas Pertanian Kabupaten Blora yang dari tahun ke tahun terus menurun. Pada 2007 sebesar Rp 19,07 miliar atau 3,1 persen da ri APBD 2007 yang berjumlah Rp 611,14 miliar. Dari jumlah itu, yang bisa diakses langsung masyarakat sebesar Rp 10,84 miliar atau sekitar 1,7 persen.

Anggaran pada 2008 sebesar Rp 19,75 miliar atau 2,8 persen dari APBD 2008 yang berjumlah Rp 704,76 miliar. Dari jumlah itu, hanya Rp 10,46 miliar atau 1,5 persen yang bisa diakses masyarakat secara langsung.

Meski APBD Kabupaten Blora naik 15,3 persen, dari Rp 611,14 miliar menjadi Rp 704,76 miliar, persentase anggaran pertanian dan tingkat serapannya secara langsung justru turun . Padahal, sekitar 62,16 persen atau 300.023 warga Kabupaten Blora bekerja di sektor pertanian, kata Yunus.

Alb. Hendriyo Widi Ismanto

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Turn this article into a PDF!
  • Technorati
  • Twitter