SUARA MERDEKA, 18 Mei 2009 – SIANG itu udara cukup terik, membuat suasana gerah dan enggan untuk mengikuti rombongan dari Dinas Peternakan Blora untuk meninjau area proyek penggemukan sapi milik dinas itu, di Desa Seso, Kecamatan Jepon.

Lingkungan kumuh, seruak bau kotoran sapi pun membayang di benak. Namun begitu melihat ratusan sapi baik jenis lokal maupun peranakan impor, ditambah pembersihan lingkungan yang mumpuni, bayangan-bayangan buruk itu langsung lenyap.

Yang ada hanya decak kagum dan sejumlah pertanyaan. Di antaranya, berapa ratus juta harga sapi-sapi itu? Apakah usaha itu semata-mata bisnis agar ada pemasukan ke kas daerah atau mungkin tujuan lain?
Kepala Dinas Peternakan Blora Ir Puspito Wardoyo menyatakan cukup banyak visi usaha penggemukan sapi yang dikelolanya. Di antaranya untuk studi ilmiah, yakni bagaimana upaya penggemukan sapi yang efektif, memilih bibit sapi yang bagus, termasuk inovasi pakan. ’’Banyak visinya, tidak sekadar bisnis murni, karena dinilai kurang efektif,” tuturnya.

Upaya itu, lanjut Puspito, semata-mata untuk mempertahankan predikat Blora yang termasuk nomor dua di Jawa Tengah untuk besarnya populasi ternak sapi. Syukur jika kelak bisa ditingkatkan dan bisa nomor satu.

Meski nomor dua di Jawa Tengah, kendala di tingkat petani ternyata cukup banyak. Misalnya, kesulitan cari pakan, terutama pada musim kemarau, dan kebanyakan yang dipelihara jenis lokal, sehingga jika dihitung dari bisnis kurang menguntungkan.
’’Melihat itu, Dinas peternakan membuat usaha peternakan yang bisa digunakan untuk pusat studi, dari olah pakan, pilih bibit dan lain-lain,’’ jelas Puspito.

Dari pantauan, di lokasi peternakan tersebut, memang selama ini warga bebas bertransaksi ataupun sekdar mencari informasi. Tidak jarang karena tertarik dengan bibitan sapi ras bagus, warga membeli dari tempat itu untuk digemukkan di rumah.

Banting Setir

Usaha penggemukan sapi di Seso itu memang sudah berjalan cukup lama, yakni 5 tahunan. Bahkan, belakangan ini upayanya tidak hanya penggemukan, tapi merambah ke upaya pembuntingan sapi. Petugas yang ada di tempat itu, mencari bibit sapi betina lokal, selanjutnya dilakukan kawin suntik.

Upaya banting setir di bidang itu, menurut Puspito, ternyata cukup prospektif. Paling tidak, diperhitungkan dari harga dasar di pasar, setelah dipelihara, dikawinsuntikkan, dan jika sudah bunting harganya bisa melonjak tajam.
’’Cukup prospektif, minat warga juga cukup lumayan, sehingga perputaran uangnya juga lebih cepat dibandingkan dengan usaha penggemukan,’’ jelasnya.

Tidak hanya itu, belakangan pihaknya juga mencoba mendaur ulang sisa-sisa pakan yang bisanya dibuang begitu saja. Caranya, sisa-sisa pakan itu dibusukkan dan dicampur dengan konsentrat.

Upaya itu tampaknya juga membuahkan hasil setelah diujicobakan pada beberapa ekor sapi. Pada awalnya beberapa sapi ogah-ogahan makan, tetapi lambat laun jadi biasa.

’’Masalah kandungan protein pada pakan buatan itu tidak usah dipertanyakan. Mungkin yang beda hanya pada rasa, sehingga perlu proses agar sapi terbiasa untuk mengonsumsinya,’’ tambahnya. (Urip Daryanto-36)

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Turn this article into a PDF!
  • Technorati
  • Twitter