About Us

©2008-2009 Berita dari Blora™ ini merupakan kliping digital, berisi kumpulan-kumpulan berita tentang Blora di media online.

Blog ini merupakan Back Up & mirror dari blog asalnya sekaligus mirror dari website ILUSA.Net.

Read More >>

Most Popular Posts

Subscribe to our RSS Feed

Lorem ipsum dolor site amet

Quisque dapibus fermentum quam. Donec semper tempus enim. Aenean tempus dignissim tortor. Ut condimentum. Mauris iaculis. Vivamus ligula nisi, dictum vel,

pertanian

28
Aug

MELON BUAH FAVORIT SELAMA BULAN PUASA



Thursday, 27 August 2009

Melon buah favorit selama puasa

BLORA - Apa buah yang paling dicari oleh masyarakat kota sate selama bulan puasa? Jawabnya teryata jatuh pada melon dan semangka. Lho kok? Cuaca panas saat puasa, buah yang berair dan manis menjadi pilihan, dan itu ada pada semangka dan melon.

”Melon rasanya segar, apalagi saat puasa yang sangat panas seperti saat ini, sangat cocok untuk buka puasa,” kata Rina, salah seorang pembeli.

Buah yang berair dan manis ini, untuk melon dijual perkilonya Rp 6.500, sementara semangka mulai dari Rp 3.000 tergantung dari jenis semangkanya. Tak hayal buah inipun laris manis diserbu warga sebagai sajian untuk melengkapi menu buka puasa.

”Selama puasa berlangsung, yang paling laku adalah melon mas, baru kemudian semangka,” kata Septia Okta, penjual buah yang berada di kios pasar Jalan Mr Iskandar Blora, Rabu (26/8).

Menurut cewek berambut panjang ini, selain keduanya, buah seperti anggur, jeruk, belimbing dan jambu air juga banyak yang dibeli masyarakat. Bukan hanya itu, selama puasa terjadi peningkatan omzet yang cukup banyak.

”Yang beli mengalami kenaikan dua kali lipat mas, meskipun harga buah banyak yang naik saat puasa, namun masyarakat tetap banyak yang membeli,” tambahnya.

Menurut Okta, kenaikan rata-rata antara Rp 500 sampai Rp 3.000. Seperti apel dari Rp 20.000 menjadi Rp 23.000. Untuk jeruk citrus bahkan mencapai Rp 24.000 dan jeruk bali Rp 16.000. Namun ada buah yang harganya cenderung turun, seperti jambu air dari Rp 15.000 menjadi Rp 13.000.

Meski banyak yang membeli, teryata buah yang ada di beberapa toko buah bukan berasal dari buah lokal Blora. Termasuk semangka dan melon yang didatangkan dari daerah di Jawa Timur karena kualitas buah yang baik, sementara melon dan semangka lokal memiliki mutu yang kurang bagus. ”Kebanyakan buahnya berasal dari Jawa Timur,” ujarnya. K.9-ip

05
Jul

Waduk Tempuran mengering


50 hektar tanaman padi terancam gagal panen 

BLORA, WawasanDigital - Debit air Waduk Tempuran yang berada di Desa Tempuran, Kecamatan Blora, kini mengalami penurunan yang cukup drastis, terlebih yang berada di bagian Timur, airnya telah mengering. Akibatnya kini, sekitar 50 hektar tanaman padi yang mengandalkan irigasi teknis dari waduk tersebut terancam gagal panen. 

Salah satu penjaga Waduk Tempuran, Sumarno (40), mengatakan, sejak bulan April hingga Mei, debit air sudah mengalami penyusutan yang sangat cepat. Puncaknya pada awal Juni, dengan mengeringnya air untuk bagian timur. 

Namun untuk bagian barat, airnya masih ada, hanya tingginya 2 meter. 

”Untuk bagian timur hitungannya nol meter mas, sehingga sudah tidak bisa untuk pertanian, sementara bagian barat, tingginya 2 meter, dimanfaatkan untuk latihan dayung,” kata Sumarno kepada Wawasan, di lokasi Waduk Tempuran, Selasa (30/6).  

Air mulai habis, katanya, karena sekitar satu bulan di wilayah Tempuran dan sekitarnya, sudah tidak pernah turun hujan. Selain untuk pertanian yang tidak bisa, PDAM juga tidak bisa mengalirkan untuk kebutuhan pelanggannya. 

Terancam

Di sekitar Waduk Tempuran setidaknya ada sekitar lima desa yang saat ini menanam padi yang menggantungkan air dari waduk tersebut. 

Namun yang paling merasakan langsung adalah petani yang berada di Desa Tempuran, sebab saat ini masih ada tanaman padi yang membutuhkan air. 

Sekretaris Desa Tempuran, Joko Triyono mengakui, ada petani di desanya yang masih memerlukan air waduk tersebut untuk mengairi tanaman padi yang sudah berumur 70 hari. 

”Sebenarnya masih butuh satu kali pengairan, namun karena debit air yang kurang, jelas tidak cukup. Apalagi air yang ada masih digunakan untuk latihan dayung,” katanya. 

Menurut Joko, lahan pertanian di Desa Tempuran ada sekitar 40 hektar, sementara 10 hektar lainnya berada di desa lain yang mengandalkan air dari Waduk Tempuran. Karena untuk Desa Tempuran saja masih kurang, maka lahan padi yang lain juga terancam kurang pasokan air. 

”Selama ini pengaturannya ya digilir. Kalau bisa disekat ya disekat. Beruntung tanaman padinya hampir panen,” tambah Joko yang juga Ketua Paguyuban Petani Pemakai Air (P3A) Desa Tempuran ini. K.9-ip

Posted in blora, pertanian
28
Jun

Dinas Pertanian Inginkan Sampel Bioetanol

SUARA MERDEKA, 18 Juni 2009 - Prakarsa sejumlah elemen masyarakat dalam pengembangan energi alternatif bioetanol mendapat dukungan pimpinan dinas dan instansi terkait. Namun untuk menyakinkan manfaat dan hasil yang diperoleh, dikehendaki adanya sampel bioetanol. 

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Blora Sutikno Slamet mengemukakan, lahan pertanian non-produktif di luar kawasan hutan yang dimiliki petani di Blora cukup luas. Jika petani diimbau menanam tanaman yang menjadi bahan baku bioetanol, para petani akan mau melaksanakan imbauan tersebut. 

Menurutnya, melalui pengembangan bioetanol, petani bisa melaksanakan diversifikasi usaha tani dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan keluarga. 

“Sekarang tinggal bagaimana menyakinkan petani untuk berpartisipasi dalam pengembangan bioetanol,” ujarnya, kemarin (17/6) di sela-sela seminar sehari Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati yang Terbarukan dan Prospektif di pendapa rumah dinas Bupati Blora.  Read the rest of this entry »

28
Jun

ALUMNI 71 dapat penghargaan PRESIDEN RI

Bupati Blora Terima Penghargaan Presiden RI

 

 BLORA, Suara Rakyat - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Boyolali, Senin (8/6) pagi, membuka Jambore Nasional Sekolah Lapangan Pengelolaan Sumber Daya Tanaman Terpadu (SL-PTT) di Asrama Haji Donohudan Ngemplak, Boyolali. Jambore Nasional SL-PTT tersebut merupakan Jambore Nasional Sekolah Lapang yang pertama kali dilaksanakan.

Jambore SL-PTT dilakukan karena produksi padi di Indonesia mengalami kenaikkan sebagai dampak swasembada beras Nasional. Tahun 2008 Indonesia tidak mengimpor beras lagi dan harga beras terus stabil karena pasokan beras dalam negeri melimpah.

Disamping itu diberikan penghargaan langsung oleh Presiden RI kepada pihak-paihak yang ikut memanjukan program pertanian sehingga dapat berswasembada beras. Read the rest of this entry »

27
May

Penggemukan Sukses, Lirik Sapi Bunting

SUARA MERDEKA, 18 Mei 2009 – SIANG itu udara cukup terik, membuat suasana gerah dan enggan untuk mengikuti rombongan dari Dinas Peternakan Blora untuk meninjau area proyek penggemukan sapi milik dinas itu, di Desa Seso, Kecamatan Jepon.

Lingkungan kumuh, seruak bau kotoran sapi pun membayang di benak. Namun begitu melihat ratusan sapi baik jenis lokal maupun peranakan impor, ditambah pembersihan lingkungan yang mumpuni, bayangan-bayangan buruk itu langsung lenyap.

Yang ada hanya decak kagum dan sejumlah pertanyaan. Di antaranya, berapa ratus juta harga sapi-sapi itu? Apakah usaha itu semata-mata bisnis agar ada pemasukan ke kas daerah atau mungkin tujuan lain?
Kepala Dinas Peternakan Blora Ir Puspito Wardoyo menyatakan cukup banyak visi usaha penggemukan sapi yang dikelolanya. Di antaranya untuk studi ilmiah, yakni bagaimana upaya penggemukan sapi yang efektif, memilih bibit sapi yang bagus, termasuk inovasi pakan. ’’Banyak visinya, tidak sekadar bisnis murni, karena dinilai kurang efektif,” tuturnya. Read the rest of this entry »

14
Apr

Jelang Kemarau, Petani Kumpulkan Pakan Ternak

SUARA MERDEKA, 13 April 2009

MUSIM panen padi telah tiba. Sebagian warga memanfaatkannya untuk mengumpulkan jerami. Mereka akan menyimpannya untuk pakan ternak sapi.

Adalah Husen (40), satu di antara pengumpul jerami tersebut. Warga Desa/Kecamatan Jiken, Blora itu mengatakan, musim panen padi menjadi berkah ter­sendiri bagi orang sepert diri­nya. Dia dengan mudah mendapatkan jerami untuk pakan ternaknya.

“Kalau sudah musim panen padi seperti ini, kita tinggal mengambil jerami dengan mudah. Kami tidak perlu jauh-jauh mencari jerami seperti pada musim kemarau,” ujarnya, kemarin (12/4).

Dia berusaha mengumpulkan jerami sebanyak-banyaknya se­bagai persediaan makanan em­pat ekor sapi yang dia pelihara.

Untuk itu, Husen telah menyiapkan sebuah tempat khusus untuk menampung jerami tersebut.  “Kami kumpulkan jerami se­banyak-banyaknya untuk persediaan karena sebentar lagi musim kemarau,” katanya.   Read the rest of this entry »

27
Mar

Blora Targetkan Produksi Gabah Kering Giling 392.698 Ton

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA   SENIN, 23 FEBRUARI 2009 | 20:43 WIB

BLORA, SENIN - Pada 2009, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Blora menargetkan produksi gabah kering giling atau GKG mencapai 392.698 ton. Hal itu mengingat realisasi GKG pada 2008 melebihi target, dari 383 .080 ton menj adi 415.492 ton.   

Kepala Subdinas Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Blora Reni Miharti, Senin (23 /2) di Blora, optimistis target itu tercapai meskipun sejumlah padi di sejumlah daerah terserang penyakit. Pasalnya, Dinas Pertanian dan Perkebunan telah mengobati sebagian besar padi itu sehingga tidak gagal panen.  

Kami belum mengetahui total hasil produksi padi pada musim panen pertama karena banyak petani yang belum panen. Semoga saja, padi yang terserang penyakit itu tidak menurunkan produktivitas padi pada musim panen pertama itu, kata Reni.

Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Blora Si nggih Hartono mengatakan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Blora tetap perlu menghitung penurunan produktivitas padi akibat penyakit. Dengan begitu, perhitungan itu dapat dijadikan data pemacu produktivitas pertanian di tahun-tahun berikutnya.   Read the rest of this entry »