Feb
1.000 Hari Pramoedya, Tembang Rindu Bumi Manusia
Gonjang-ganjing alam luluh-lantakkan nyawa-nyawa/mata malaikat mengincar buas/udara mengelilingi panas/…./lalu pada siapa butuh pertolongan/haruskah kubersabar dan berikhtiar/bumi seolah tak menerima lagi//
KOMPAS, Jumat, 6 Februari 2009 | 18:30 WIB - Tembang rindu untuk bumi dan manusia itu melantun dengan alunan musik punk dan tradisional. Bagaimana tidak, iringan tembang berjudul “Nyanyian Akhir” itu menyuarakan perpaduan rancak drum, gitar listrik, bas, ketipung, kendang, dan saron.
Musik dan lagu itu memukau para penonton. Di tengah-tengah kekaguman itu, mereka bertanya-tanya dan saling berkomentar lantaran pakaian para personel band cukup nyeleneh .
Masak vokalis band mengenakan busana muslim dan berkopiah, sedang pemain musik memakai pakaian punk. “Salah kostum kali,” komentar salah seorang penonton.
Itulah pertunjukkan band Lembaga Sosial dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi), Kecamatan Kayen, Pati, dalam Pentas Musik Kehidupan untuk Pramoedya di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Jumat (6/2) sore. Kegiatan dalam rangka memperingati 1.000 hari meninggalnya sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu diramaikan pula sejumlah band lain, yaitu Marginal Band, Residivis Band, Oral Band, dan Dendang Kampung. Read the rest of this entry »

